Menjadikan Seni Sebagai Pemersatu di Tengah Dinamika Politik

  • 18 Juni 2019
Menjadikan Seni Sebagai Pemersatu di Tengah Dinamika Politik
Beritabali.com, Denpasar. Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan bahwa ada seni yang dapat menyatukan di tengah dinamika politik yang terjadi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Koster dalam sambutannya pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 di Art Centre Ardha Candra, Denpasar, Bali, Sabtu (15/6/2019) malam lalu. 
 

Penyataan tersebut tentu sangat menyejukkan, namun pelaksanaanya di lapangan sangat sulit. Menjaga persatuan di tengah derasnya informasi dan fanatisme berlebihan menjadikan tugas mewujudkan persatuan menjadi tugas yang sangat berat.
 
Pernyataan menjadikan seni sebagai sarana untuk mewujudkan persatuan bukanlah hal yang baru. Presiden Joko Widodo juga sempat menyerukan untuk menjadikan seni sebagai sumber inspirasi pemersatu bangsa dan suku-suku yang ada di Indonesia. 
 
 
Seruan tersebut disampaikan saat memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar pada tahun 2018 lalu. Sebelumnya Mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga sempat menyampaikan bahwa seni budaya adalah unsur universal yang dapat mempersatukan perbedaan seluruh komponen masyarakat. Seni budaya juga dapat mempersatukan kepentingan yang dinamis dalam masyarakat, menjadi sebuah harmoni dalam sebuah kehidupan sosial. Pandangan tersebut disampaikan Pastika saat Pembukaan Festival Seni Budaya Alam Semesta yang diselenggarakan oleh "The International Nature Loving Association" (INLA) tahun 2017. 
 
Jadi boleh dikatakan setiap tahun ada pernyataan untuk menjadikan seni sebagai sarana pemersatu, tapi kenyataanya konflik akibat kepentingan terus berlanjut dan hanya jeda sementara ketika menikmati seni dan berkesenian.  Tantangannya adalah bagaimana benar-benar menjadikan seni sebagai alat pemersatu dan bukan menjadikan seni hanya sebagai alat kompromi demi kepentingan? Jangan sampai menjadikan seni sebagai pemersatu hanya menjadi ungkapan rutin atau ungkapan yang “monoton”.
 
 
Dalam sambutannya Koster juga sempat menyampaikan bahwa di tanah dewata, kesenian berfungsi sebagai oksigen yang ada dimana-mana dan wajib dihirup sepenuh dada sehingga mampu merasakan Bali yang sejati-jatinya. Namun dalam perkembanganya masyarakat Bali kini harus bekerja ekstra keras, selain bekerja untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, juga harus bekerja keras untuk mempertahankan seni dan budaya. 
 
Bahkan tak jarang, masyarakat Bali ibarat “taluh apit batu” yaitu memilih mengutamakan pekerjaan agar tidak berujung pada PHK atau ngayah berkesenian. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir sering muncul lowongan pekerjaan yang tidak diperuntuhkan bagi warga Bali dengan alasan banyak memiliki waktu libur. Padahal selama ini seni dan budaya yang dimiliki masyarakat Bali menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Sebagai destinasi wisata, Bali pada akhirnya menjadi tempat pengembangan bisnis yang menjanjikan. Apakah ini yang kemudian disebut sebagai Bali era-baru?. Dimana potensi yang dimiliki Bali yang justru menenggelamkan pemiliknya. 
 
Beruntungnya belum ada warga Bali yang mengalami PHK karena harus tampil dalam ajang pesta kesenian Bali, atau mungkin sudah ada kasus seperti itu tapi tidak terangkat di media. Harapannya, jangan sampai warga Bali yang dengan susah payah melestarikan dan menjaga seni-budaya yang dimiliki menjadi “mekente” karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
 
Ungkapan yang juga cukup menyejukkan dari Gubernur Bali yaitu ungkapan untuk menjadikan PKB sebagai media untuk menebarkan spirit kedamaian dan toleransi dalam kebhinekaan guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Termasuk ajakan untuk berangkulan mewujudkan persatuan karena pemilu telah usai. 
 
Namun sayang saat memberikan sambutan pembukaan pawai Pesta Kesenian Bali di Renon, Gubernur Koster masih menyinggung kemenangan pasangan Jokowi-Amin yang mencapai 91,68% dan merupakan kemenangan dengan suara tertinggi di Indonesia. Hal ini seakan memperlihatkan sebuah kontradiksi, padahal seharusnya melalui ajang PKB, Gubernur seharusnya mulai merangkul seluruh komponen untuk mewujudkan persatuan tanpa lagi memandang yang satu jalur atau beda jalur. 
 
Apalagi dalam berkesenian tidak ada yang memandang yang menyebabkan kemenangan dan yang menyebabkan kekalahan. Belum lagi selaku Gubernur, Koster telah mengklaim bahwa PKB yang sudah berlangsung selama 41 tahun dan digagas oleh Gubernur Ida Bagus Mantra merupakan pesta rakyat. Pesta dimana rakyat bergembira-bersukacita dalam mengikuti, menyaksikan, dan menikmati keseluruhan suasana penyelenggaraan pesta seni.
 
Tema PKB tahun ini yang mengangkat filosofi “Bayu Pramana” menjadi menarik dicermati bila dikaitkan dengan usaha membangun seni sebagai sarana pemersatu. Apalagi bayu pramana dipandang sebagai upaya untuk memuliakan energi angin sebagai kekuatan unsur alam semesta. Memang untuk melestarikan dan menjaga seni perlu sebuah energi atau tenaga, begitu juga untuk membangun persatuan juga memerlukan energi. Dimana energi yang digunakan adalah energi yang mampu dikontrol sehingga memberikan manfaat. Mengingat apabila energi tidak mampu dikontrol maka justru akan membawa malapetaka. 
 
Sebagai contoh energi angin jika mampu dimanfaatkan dan dikontrol akan dapat menjadi listrik melalui pembangkit listrik tenaga bayu. Berbeda ketika energi angin saat tidak dapat dikendalikan, akan menyebabkan kerusakan dan menimbulkan kerugian. Sebagai sebuah kasus yaitu tari joged yang cukup dikenal dan menggambarkan keakraban di kalangan masyarakat Bali. Tari joged memberi energi positif untuk menjalin persatuan dan keakraban di antar warga. Namun energi yang berlebihan saat pementasan tari jogged menyebabkan tarian tersebut disalah artikan, sehingga muncul istilah joged porno. 
 
Istilah joged porno ini akhirnya merusak citra tarian Bali yang sudah terkenal hingga mancanegara. Tema besar PKB yaitu bayu pramana juga disebut-sebut sebagai penjabaran dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Ujung-ujungnya adalah usaha untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Bali. 
 
 
Berbicara target pencapaian kesejahteraan rakyat Bali sebelumnya juga menjadi tujuan dari program Bali Mandara, sebuah program yang dikembangkan oleh Gubernur Bali sebelumnya yaitu Made Mangku Pastika. Dalam konteks pelaksanaan PKB, tema bayu pramana dipastikan terimplementasi dan tercermin pada semua kegiatan PKB. Semua target dan harapan tentu akan tercapai jika kesejahteraan seniman telah terpenuhi, sebab sangat tidak memungkinkan berkesenian apalagi menjadikan seni sebagai sarana pemersatu dapat dilakukan jika pelaku seni “mekente”. 
 
Sudah saatnya di Bali era baru kesejahteraan pada seniman menjadi prioritas, sehingga PKB sebagai pesta rakyat, pesta dimana rakyat bergembira dengan seni dan bergembira dalam persatuan dapat terwujud. Dengan terjaminnya kesejahteraan, Sekehe sebunan yang memiliki ciri ikatan yang kuat sesama anggota, guyub, dan bergotong-royong dapat mempertahankan identitasnya dan kreativitasnya. 
 
 

Apalagi  keberadaan Sekehe sebunan sangat penting dalam memelihara tata kehidupan masyarakat yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal gilik-saguluk, parasparo, salunglung-sabayantaka, sarpana ya.
 
Seni mungkin hanya salah satu cara masyarakat Bali untuk menyalurkan energi yang dimiliki dan menjadi salah satu cara yang digunakan untuk membangun persatuan. Bali sebenarnya memiliki beragam kearifan lokal yang telah teruji sejak dulu dan menjadi pedoman dalam memelihara persatuan dan toleransi. Sebut saja istilah menyamabraya, paras-paros hingga tradisi ngayah. Sebut saja kearifan lokal menyamabraya yang mengandung nilai-nilai budaya damai seperti solidaritas, kerjasama, toleransi, kebebasan, menerima perbedaan dan keragaman budaya, dan penghormatan penuh terhadap HAM dan kebebasan fundamental. Kemudian paras-paros yang bermakna saling memahami kebutuhan masing-masing. 
 
Begitu juga dengan tradisi ngayah yang diartikan sebagai aktifitas gotong-royong atau aktivitas yang tidak bermuara pada hasil material atau upah. Jadi Bali sebenarnya memiliki beragam konsep untuk menyalurkan energy, sehingga energi yang dimiliki memberikan manfaat bagi kehidupan dan dalam upaya membangun persatuan.
 
Penulis :
 
I Nengah Muliarta
 
Dewan Redaksi Beritabali.com
  • 18 Juni 2019

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita