KPU Diminta Percepat Pengumuman Rekapitulasi Guna Redam Saling Klaim Kemenangan

  • 20 April 2019
KPU Diminta Percepat Pengumuman Rekapitulasi Guna Redam Saling Klaim Kemenangan
Beritabali.com, Denpasar. Akademisi dari Universitas Ngurah Rai, Denpasar Dr. Luh Riniti Rahayu meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempercepat pengumuman rekapitulasi hasil pemilihan Umum (Pemilu) 2019. 
 

Percepatan pengumuman hasil rekapitulasi diperlukan untuk meredam aksi saling klaim kemenangan dari para peserta Pemilu 2019. “Melihat kondisi yang kita rasakan saat ini, terutama sikap publik yang terbelah yang ditunjukkan oleh tebaran konten media sosial, maka jika kita tidak bijak menyikapinya, kita akan terjebak dalam tindakan yang tidak produktif bahkan mungkin destruktif. Oleh karena itu data manual yang akan dikeluarkan KPU RI kedepan yang paling lama 35 hari, bila memungkinkan dapat dipercepat, waktu yang lama menyebabkan suasana keruh karena saling klaim kemenangan berdasarkan quick count versi yang berbeda” kata Riniti saat dikonfirmasi di Denpasar pada Sabtu (20/4).
 
Riniti mengungkapkan perbedaan data quick count bermula dari keadaan yang tidak diinginkan oleh pihakyang berkompetisi, meskipun hasil quick count dari lembaga-lembaga survei yang telah teruji keilmiahannya. Apalagi pihak yang berkompetisi masing-masing memiliki kepentingan yang berlawanan.
 
Riniti Rahayu yang juga merupakan Ketua Yayasan Bali Sruti mengingatkan guna menghindari kemungkinan-kemungkinan yang inskontitusional, penyelenggara harus benar-benar bekerja cepat, tertib disiplin berintegritas di setiap jenjang. Dengan harapan para pihak dan rakyat pendukung percaya dan menerima hasil manual yang resmi.
 

“Beberapa hari kedepan euforia pilpres akan terus mendominasi perhatian kita. sementara perhitungan suara untuk para caleg terus berlangsung. dan bila lengah, maka kecurangan yang tinggi akan terjadi, sehingga nantinya kita akan menghasilkan para legislator atau wakil kita  yang dari awal curang. Ini harus menjadi perhatian kita,” ujar Riniti.
 
Aktivis perempuan ini menambahkan bahwa lamanya masa kampanye yang mencapai 8 bulan membuat isu-isu berbasis identitas menjadi mengental, utamanya isu berbasis agama. Kondisi ini menyebabkan pemilu kali ini berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya yang mempercayai quick count yang ilmiah dan independen.
 
Belum lagi, kompetisi calon presiden yang sama dari pemilu sebelumnya, membuat pertarungan semakin sengit. Hal ini akan memperlebar perbedaan dari para pendukung masing-masing dan berbahaya bagi kedamaian bangsa bila tidak segera diantisipasi.[bbn/mul]
  • 20 April 2019

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita